Jakarta - Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia tidak hanya memperingati lahirnya Pancasila sebagai dasar negara, tetapi juga diajak untuk melihat kembali sejauh mana nilai-nilainya hidup dalam perilaku sehari-hari. Pada Hari Lahir Pancasila 2026, pertanyaan yang terasa makin relevan adalah: sudahkah sumber daya manusia Indonesia berkembang bukan hanya dari sisi keahlian, tetapi juga dari sisi karakter, etika, dan kepedulian sosial?
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 mengusung tema resmi Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Tema ini terasa dekat dengan situasi hari ini, ketika masyarakat hidup di tengah arus digital yang cepat, perbedaan pendapat yang mudah membesar, serta dunia kerja yang menuntut kemampuan beradaptasi. Dalam konteks itu, Pancasila tidak cukup hanya dipahami sebagai hafalan lima sila. Ia perlu hadir sebagai cara berpikir, cara bekerja, dan cara mengambil keputusan.
Jika dikaitkan dengan pembangunan kompetensi SDM, Pancasila dapat dipahami sebagai fondasi nilai yang melengkapi kemampuan teknis. Seseorang boleh saja menguasai teknologi, komunikasi, manajemen, atau keuangan, tetapi tanpa integritas dan rasa tanggung jawab sosial, kompetensi itu bisa kehilangan arah. Karena itu, SDM yang menjunjung tinggi Pancasila adalah SDM yang profesional, tetapi tetap manusiawi; mampu bersaing, tetapi tidak mengabaikan gotong royong; terbuka pada perubahan, tetapi tidak tercerabut dari nilai kebangsaan.
Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 pernah menegaskan bahwa negara yang hendak dibangun bukan untuk satu orang atau satu golongan saja. Gagasan itu masih terasa kuat sampai sekarang. Di kantor, kampus, sekolah, maupun ruang publik digital, nilai Pancasila mengingatkan bahwa setiap keputusan sebaiknya mempertimbangkan kepentingan bersama, bukan sekadar keuntungan pribadi atau kelompok. Dari sinilah kompetensi SDM yang berkarakter mulai dibentuk.
Secara praktis, membangun kompetensi SDM berbasis Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Nilai Ketuhanan bisa diterjemahkan dalam kejujuran dan kesadaran moral saat bekerja. Nilai Kemanusiaan tampak dari cara memperlakukan rekan kerja, pelanggan, atau masyarakat dengan hormat. Persatuan terlihat dari kemampuan bekerja lintas latar belakang. Kerakyatan hadir dalam budaya musyawarah dan mendengar pendapat orang lain. Sementara Keadilan Sosial tercermin dari keputusan yang tidak diskriminatif dan memberi ruang bagi semua pihak untuk berkembang.
Dalam dunia kerja modern, nilai-nilai tersebut dapat menjadi semacam kompas perilaku. Misalnya, ketika sebuah organisasi menyusun program pelatihan, ukuran keberhasilannya tidak hanya dilihat dari sertifikat atau angka produktivitas. Program itu juga perlu membentuk sikap kolaboratif, disiplin, tangguh, dan peduli. Dengan begitu, produk dari pengembangan SDM bukan sekadar tenaga kerja yang cakap, melainkan pribadi yang mampu membawa dampak positif bagi lingkungan kerjanya.
Ada beberapa langkah yang bisa diterapkan oleh lembaga, perusahaan, sekolah, maupun komunitas. Pertama, mulai dari pemetaan kompetensi, yaitu melihat kemampuan teknis, kemampuan sosial, dan karakter yang perlu diperkuat. Kedua, susun pelatihan yang tidak hanya berisi materi keterampilan, tetapi juga studi kasus tentang etika, pelayanan, tanggung jawab, dan kerja sama. Ketiga, biasakan evaluasi perilaku, bukan hanya evaluasi hasil kerja. Keempat, berikan teladan dari pimpinan, karena nilai Pancasila akan sulit tumbuh jika hanya berhenti sebagai slogan di dinding ruangan.
Tips lainnya adalah menjadikan Pancasila sebagai budaya kecil yang dilakukan secara konsisten. Contohnya, membangun kebiasaan rapat yang memberi ruang semua orang berbicara, menyelesaikan konflik dengan dialog, menghargai perbedaan agama dan budaya di lingkungan kerja, serta menghindari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Di era digital, kemampuan memilah informasi juga bagian dari kompetensi kewargaan. SDM yang Pancasilais tidak mudah terpancing provokasi, tidak sembarangan menyebar kebencian, dan mampu menjaga ruang publik tetap sehat.
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila melalui tema Hari Lahir Pancasila 2026 menekankan bahwa Pancasila menjadi pemersatu bangsa sekaligus fondasi perdamaian dunia. Pesan ini penting karena Indonesia adalah negara besar dengan keragaman yang luar biasa. Jika SDM Indonesia mampu menjadikan Pancasila sebagai landasan sikap, maka keberagaman tidak akan dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kekuatan untuk berkolaborasi dan maju bersama.
Akhirnya, Hari Lahir Pancasila 2026 sebaiknya tidak berhenti pada upacara, poster, atau ucapan seremonial. Momentum ini bisa menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia Indonesia membutuhkan keseimbangan antara kecerdasan, keterampilan, dan karakter. Kompetensi tanpa nilai bisa menjadi dingin dan egois, sedangkan nilai tanpa kompetensi bisa sulit menjawab tantangan zaman. Maka, tugas kita hari ini adalah mempertemukan keduanya: menjadi SDM yang unggul, tetapi tetap berakar pada Pancasila.
Sumber Referensi/Bahan Bacaan
- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Surat Edaran Kepala BPIP Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026.
- Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026.
- JDIH BPIP, Koleksi Langka – Pidato Soekarno 1 Juni 1945.
- Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.
- Sekretariat Negara Republik Indonesia, daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.